Senin, 23 November 2015

LP Hipoparatiroidisme

BAB 2
KONSEP DASAR HIPOPARATIROIDISME

2.1 Pengertian Hipoparatiroidisme
Hipoparatiroidisme adalah suatu ketidakseimbangan metabolisme kalsium dan fosfat yang terjadi karena produksi hormon paratiroid yang kurang sehingga menyebabkan hipokalsemia (Kowalak, 2011). Hipoparatyroidisme adalah hiposekresi kelenjar paratyroid yang menimbulkan syndroma berlawanan dengan hiperparatyroid, konsentrasi kalsium rendah tetapi phosfatnya tinggi dan bisa menimbulkan tetani akibat dari pengangkatan atau kerusakan kelenjar paratyroid (Tjahjono, 1996).

2.2 Etiologi Hipoparatiroidisme  
Hipoparatiroidisme dapat bersifat akut atau kronis dan bisa diklasifikasikan sebagai kelainan idiopatik atau didapat (akuisitas). Keadaan yang mungkin menyebabkan hipoparatiroidisme meliputi:
  1. Pankreatitis akut atau malabsorbsi 
  2. Gagal ginjal 
  3. Osteomalasia 
  4. Gangguan genetik autoimun atau kondisi konginetal tidak adanya kelenjar paratiroid (idiopatik) 
  5. Secara tidak sengaja terjadi pengangkatan atau cedera kelenjar paratiroid (idiopatik) ketika dilakukan tiroidektomi atau pembedahan leher lain atau kadang-kadang radiasi yang masif pada kelenjar paratiroid (akuisitas) 
  6. Infark iskemik kelenjar paratiroid selama pembedahan, amiloidosis, neoplasma, atau trauma (akuisitas) 
  7. Kerusakan sintesis dan pelepasan hormon akibat hipomaknesemia, supresif fungsi kelenjar yang normal akibat hiperkalsemia, dan keterlambatan maturasi fungsi paratiroid (akuisitas), reversibel.

2.3 Patofisiologi Hipoparatiroidisme
Gejala hipoparatiroidisme disebabkan oleh defisiensi parathormon yang menyebabkan kenaikkan kadar fosfat darah (hiperfosfatemia) dan penurunan konsentrasi kalsium darah (hipokalsemia. Tanpa adanya parathormon akan terjadi penurunan absorpsi intestinal kalsium dari makanan dan penurunan resorpsi kalsium dari tulang dan sepanjang tubulus renalis. Penurunan ekskresi fosfat melalui ginjal menyebabkan hipofosfaturia, dan kadar kalsium serum yang rendah mengakibatkan hipokalsiuria (Smeltzer, 2002).

2.4 Manifestasi Klinis Hipoparatiroidisme
a.       Hipoparatiroidisme yang ringan dapat asimtomatik, namun biasanya menyebabkan:
Hipokalsemia dan kadar fosfat serum yang tinggi yang mengenai sistem saraf pusat dan sistem lain.
b.      Hipoparatiroidisme kronis, meliputi :
·         Iritabilitas neuromuskuler, peningkatan refleks tendon dalam, tanda Chvostek (spasme nervus fasialis yang hiperiritabel ketika saraf tersebut diketuk), disfagia, sindrome otak organik, psikosis, defisiensi mental pada anak-anak dan tetani.
·         Sulit berjalan dan tendensi terjatuh atau roboh (tetani kronis)
c.       Hipoparatiroidisme akut, meliputi :
·         Rasa kesemutan pada ujung-ujung jari tangan, disekitar mutut dan kadang-kadang pada kaki (gejala pertama), ketegangan serta spasme otot yang menjalar serta bertambah parah dan akibatnya aduksi ibu jari tangan, pergelangan tangan, serta sendi siku, rasa nyeri yang bervariasi menurut derajat ketegangan otot tetapi jarang mengenai wajah, tungkai dan kaki (overt tetany yang akut)
·         Laringospasme, stridor, sianosis dan serangan kejang/bangkitan (kelainan SSP) semakin parah pada hiperventilasi, kehamilan, infeksi, penghentian terapi hormon tiroid atau pemberian diuretik dan sebelum menstruasi (tetani akut)
·         Nyeri abdomen, malabsorbsi intestinal disertai steatore, rambut kering dan kusam, kerontokan rambut spontan, kuku jari tangan rapuh dan memiliki garis tonjolan (krista) atau terlepas, kulit kering dan bersisik, dermatitis eksfoliatif, infeksi kandida, katarak dan email gigi yang lemah sehingga gigi mudah berubah warna, pecah dan keropos (efek hipokalsemia)

2.5 Pemeriksaan Diagnostik Hipoparatiroidisme
1.      Radioimmunoassay untuk hormon paratiroid yang memperlihatkan penurunan kadar hormon tersebut 
2.      Penurunan kadar kalsium serum dan urine yang berkisar dari 5-6 mg/dl (1,2-1,5 mmol/L)
3.      Peningkatan kadar fosfor serum 
4.      Penurunan kadar kreatinin 
5.      EKG yang memperlihatkan pemanjangan interval QT dan ST akibat hipokalsemia 
6.      Tindakan menggelembungkan manset tensimeter yang dipasang pada lengan atas hingga mencapai tekanan di antara tekanan sistolik dan diastolik serta mempertahankan penggelembungan manset tersebut pada tekanan ini selama tiga menit akan menimbulkan gejala Trousseau (spasme karpal) yang merupakan bukti klinis hipoparatiroidisme. 
7.      Menunjukkan hasil positif pada pemeriksaan tanda Chvostek, yaitu apabila pengetukan yang dilakukan secara tiba-tiba di daerah nervus fasialis tepat di depan kelenjar parotis dan di sebelah anterior telinga menyebabkan spasme atau gerakan kedutan pada mulut, hidung dan mata (Smeltzer : 2002)
8.      Pada pemeriksaan sinar-X tulang akan memperlihatkan peningkatan densitas.

2.6 Penatalaksanaan Hipoparatiroidisme
Tujuan terapi pada pasien hipoparatiroidisme adalah untuk menaikkan kadar kalsium serum sampai 9 hingga 10 mg/dl (2,2 hingga 2,5 mmol/L) dan menghilangkan gejala hipoparatiroidisme dan hipokalsemia. Penatalaksanaan pada pasien hipoparatiroidisme, anatar lain:
  1. Penyuntikan segera garam kalsium secara IV, seperti larutan kalsium glukonat 10% untuk meningkatkan kadar kalsium serum terionisasi (tetani akut yang mengancam nyawa pasien). Jika terapi ini tidak segera menurunkan iritabilitas neuromuskuler dan serangan kejang, preparat sedatid seperti pentobarbital dapat diberikan (Smeltzer, 2002)
2.      Bernapas di dalam kantung kertas dan menghirup gas CO2 yang dihembuskan pasien sendiri akan menimbulkan asidosis respiratorik ringan yang meningkatkan kadar kalsium serum (pasien yang sadar dapat bekerja sama)
3.      Pemberian sedatif dan antikonvulasan untuk mengendalikan spasme sampai kadar kalsium meningkat
4.      Peningkatan asupan kalsium dari makanan
5.      Terapi rumatan dengan pemberian suplemen kalsium dan vitamin D per oral (tetani kronis)
6.      Pemberian suplemen vitamin D dan kalsium, karena absorbsi kalsium dalam usus halus memerlukan keberadaan vitamin D (terapi penyakit yang reversibel dan biasanya harus dilakukan seumur hidup)
7.      Pemberian kalsitriol (Calcijex, Rocaltrol) jika ada gangguan hepar atau renal yang membuat pasien tidak toleran terhadap vitamin D
8.      Pemberian preparat parathormon parenteral dapat dilakukan untuk mengatasi hipoparatiroidisme akut disertai tetanus. Pasien yang mendapatkan parathormon memerlukan pemantauan akan adanya perubahan kadar kalsium serum dan reaksi alergi 

2.7 Komplikasi Hipoparatiroidisme
Komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita hipoparatiroidisme, meliputi :
1.      Aritmia jantung, gagal jantung
2.      Katarak
3.      Kalsifikasi ganglia basalis
4.      Pertumbuhan yang terhenti, malformasi gigi, dan retardasi mental
5.      Gejala parkinson


Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah Volume 2. EGC: Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar